Kamis, 05 Maret 2015

Pengertian Kesehatan Mental dan Sehat mental

Sebelum mengetahui apa itu sehat mental, perlu dipahami terlebih dahulu arti dari kata "sehat" itu sendiri. Menurut ilmu kedokteran dan psikiatri mengartikan sehat sebagai kondisi tanpa keluhan, baik fisik maupun mental. Orang yang sehat adalah orang yang tidak mempunyai keluhan tentang keadaan fisik dan mentalnya. Sehat fisik artinya tidak ada keluhan fisik. Jadi, sehat mental adalah tidak ada keluhan mental.


  1. Orientasi Kesehatan Mental 

            Menurut WHO, kesehatan mental adalah suatu kondisi ‘sejahtera’ dimana individu dapat merealisasikan kecakapannya, dapat melakukan coping terhadap tekanan hidup yang normal, bekerja dengan produktif dan memiliki konstribusi dalam kehidupan di komunitasnya.
            Assagioli, (Ihrom, 2008) mendefinisikan, kesehatan mental adalah terwujudnya integritas kepribadian, keselarasan dengan jati diri, pertumbuhan ke arah realisasi diri, dan ke arah hubungan yang sehat dengan orang lain.
            (Zakiyah Darojah, 1975) kesehatan mental adalah terwujudnya keharmonisan antara fungsi-fungsi jiwa, serta kesanggupan untuk menghadapi problem-problem biasa yang terjadi dan merasakan secara positif kebahagiaan dan kemampuan dirinya.
Menurut Jahoda (Ihrom, 2008), kesehatan mental mencakup :
a)      Sikap kepribadian yang baik terhadap diri sendiri, kemampuan mengenali diri dengan baik.
b)      Pertumbuhan dan perkembangan serta perwujudan diri yang baik.
c)      Keseimbangan mental, kesatuan pandangan dan ketahanan terhadap segala tekanan.
d)     Otonomi diri yang mencakup unsur-unsur pengatur kelakuan dari dalam atau kelakuan-kelakuan bebas.
e)      Persepsi mengenai realitas, terbebas dari penyimpangan kebutuhan serta  memiliki empati dan kepekaan sosial.
f)       Kemampuan menguasai dan berintegrasi dengan lingkungan.
            Kesehatan mental merupakan kondisi yang bersifat kontinum, dimana setiap kondisi kesehatan mental individu memiliki berbagai nilai yang berbeda-beda serta sulit untuk dikenali kecuali menunjukkan ‘gejala’ yang menonjol.

2.  Konsep Sehat
WHO mendefinisikan sehat sebagai sebuah kondisi yang lengkap yaitu sejahtera (well-being) dari segi fisik, mental dan sosial dan tidak hanya terbebas dari gejala atau penyakit.
Dadang Hawari  pada tahun 1984 menambahkan aspek spiritual sebagai kriteria sehat, sehingga sehat berarti meliputi kondisi sejahtera pada :
1. Aspek fisik/ jasmani/ biologis
2. Aspek kejiwaan/ psikologis
3. Aspek sosial
4. Aspek spiritual (rohani/ agama)


3.  Sejarah Perkembangan Kesehatan Mental
1. Masa Animisme
            Orang Yunani percaya bahwa gangguan mental terjadi karena dewa marah dan membawa pergi jiwanya. Untuk menghindari kemarahannya, maka mereka mengadakan perjamuan pesta (sesaji) dengan mantra dari korban yang mereka persembahkan. Praktik-praktik semacam tersebut berlangsung mulai dari abad 7-5 SM. Setelah kemunculan naturalisme, maka praktik semacam itupun kian berkurang, walaupun kepercayaan tentang penyakit mental tersebut berasal dari roh-roh jahat tetap bertahan sampai abad pertengahan.
2. Kemunculan Naturalisme
            Perubahan sikap terhadap tradisi animisme terjadi pada zaman Hipocrates (460-467). Aliran ini berpendapat bahwa gangguan mental atau fisik merupakan akibat dari alam. Hipocrastes menolak pengaruh roh, dewa, setan atau hantu sebagai penyebab sakit. Ide naturalistik ini kemudian dikembangkan oleh Galen, seorang tabib dalam lapangan pekerjaan pemeriksaan atau pembedahan hewan.
            Dalam perkembangan selanjutnya, pendekatan naturalistik ini tidak dipergunakan lagi di kalangan orang-orang Kristen. Seorang dokter Perancis, Philipe Pinel (1745-1826) menggunakan filasafat politik dan sosial yang baru untuk memecahkan problem penyakit mental. Dia telah terpilih menjadi kepala Rumah Sakit Bicetre di Paris. Di rumah sakit ini, para pasiennya (yang maniak) dirantai, diikat di tembok dan di tempat tidur. Para pasien yang telah dirantai selama 20 tahun atau lebih karena dipandang sangat berbahaya dibawa jalan-jalan di sekitar rumah sakit. Akhirnya, di antara mereka banyak yang berhasil. Mereka tidak lagi menunjukkan kecenderungan untuk melukai atau merusak dirinya sendiri.
Pada Era Modern
   Perubahan yang sangat berarti dalam sikap dan pengobatan gangguan mental, yaitu dari animisme (irrasional) dan tradisional ke sikap dan cara yang rasional (ilmiah), terjadi pada saat berkembangnya psikologi abnormal dan psikiatri di Amerika Serikat, yaitu pada tahun 1783. Perkembangan psikologi abnormal dan pskiatri ini memberikan pengaruh kepada lahirnya ”mental hygiene” yang berkembang menjadi suatu ”Body of Knowledge”beserta gerakan-gerakan yang terorganisir.
            Perkembangan kesehatan mental dipengaruhi oleh gagasan, pemikiran dan inspirasi para ahli, terutama dari dua tokoh perintis, yaitu Dorothea Lynde Dixdan Clifford Whittingham Beers. Pada tahun 1909, gerakan kesehatan mental secara formal mulai muncul. Selama dekade 1900-1909, beberapa organisasi kesehatan mental telah didirikan, seperti American Social Hygiene Associatin(ASHA), dan American Federatio  for Sex Hygiene.
            Perkembangan gerakan-gerakan di bidang kesehatan mental ini tidak lepas dari jasa Clifford Whittingham Beers (1876-1943). Bahkan, karena jasa-jasanya itulah, dia dinobatkan sebagai ”The Founder Of The Mental Hygiene Movement”. Dia terkenal karena pengalamannya yang luas dalam bidang pencegahan dan pengobatan gangguan mental dengan cara yang sangat manusiawi.
            Pada tahun 1950, organisasi kesehatan mental terus bertambah, yaitu dengan berdirinya ”National Association For Mental Health”yang bekerjasama dengan tiga organisasi swadaya masyarakat lainnya, yaitu ”National Committee For Mental Hygiene”, ”National Mental Health Foundation”, dan”Psychiatric Foundation”.
            Gerakan kesehatan mental ini terus berkembang sehingga pada tahun 1075 di Amerika Serikat terdapat lebih dari seribu tempat perkumpulan kesehatan mental. Di belahan dunia lainnya, gerakan ini dikembangkan melalui ”The World Federation For Mental Health” dan“The World Health Organization”.



Kamis, 15 Januari 2015

My Experience on 2pa03

Assalamualaikum wr wb..

          Demi memenuhi tugas softskill saya untuk bercerita bagaimana pengalaman saya di semester 3 ini di kelas 2pa03 Universitas Gunadarma tahun 2014/2015.
          Pagi itu, saya kurang bersemangat untuk masuk ke kelas baru saya karena sahabat dekat saya tidak lagi satu kelas dengan saya. Saya mungkin sedikit lupa bagaimana pertama kali saya masuk di kelas baru saya, hanya saja yang saya ingat, saya merasa sedikit lega karena di dalam kelas itu ada teman yang sudah saya kenal sebelumnya. Beberapa diantara mereka adalah teman sekelas saya sewaktu masih di tingkat 1, seperti Dindi, Ibnu, Okta, Pute, Peye, dan Mumut sedangkan beberapa lagi adalah teman yang saya kenal sebelum PPSPPT seperti, Fitri dan Shishi.
          Di hari pertama, kita belum banyak saling mengenal bahkan perkenalan satu persatupun tidak kami lakukan sehingga belum ada pemilihan ketua kelas. Di hari kedua, barulah suasanya menjadi hangat karena telah saling berkenalan.
          Lama-kelamaan, akhirnya saya mulai terbiasa di kelas baru saya. Saya mulai berbaur dengan anak-anak kelas, terlebih ketika kita mulai berbicara seputar makrab yang hendak direncanakan untuk memperat tali silaturahmi dan untuk saling mengenal satu sama lainnya. Makrab ke puncak. Tetapi, entah karena apa, banyak yang tidak dapat hadir dan hanya beberapa para lelaki saja yang tetap pergi ke puncak. Saya senang berada di kelas yang anak-anaknya rame dan baik-baik walau keseringan saya selalu meninggalkan kelas paling pertama ketika usai mata kuliah hehehe. Karena saya harus bergegas menemui upin saya yang juga sudah menunggu saya di luar kelas.
          Saya juga merasa amat senang dan bangga terhadap dosen dosen Gunadarma, mereka adalah orang-orang kompeten yang baik dalam mengajar. Ya walau ada beberapa dari cara pengajaran yang kurang dapat saya tangkap. Apreciate banget ketika saya bertemu dengan seorang dosen yang mengajar Psikologi Klinis saya, beliau membantu saya dalam memberikan solusi-solusi jiti yang tentunya dapat saya implementasikan di kehidupan saya untuk menjadi orang yang lebih baik. Beliau juga banyak mengajarkan saya tentang paranoid schizophrenia syndrome yang sangat menarik perhatian saya untuk mempelajarinya lebih dalam.
          Semoga saja saya dan teman-teman saya dapat cepat lulus dengan tepat waktu di Universitas Gunadarma jurusan Psikologi ini. Sekian yang dapat saya ceritakan mengenai pengalaman saya disini. Wassalamualaikum wr wb.



Rabu, 07 Januari 2015

Psikologi Klinis dalam Internet

Dewasa ini Internet bukan hanya tempat untuk Mengirim E-mail, Chatting, Nonton Video, ataupun Download berbagai file dan Aplikasi, tetapi sekarang internet juga sudah terdapat Test-test Psikologi dan bahkan Psikoterapi. Psikoterapi itu sendiri di Indonesia lebih hanya kepada Test secara Kasat mata, karena si Psikolog yang memeriksa tidak bertemu secara langsung. Ada beberapa Kelebihan maupun Kekurangan dalam melakukan Psikoterapi secara Online, seperti sebagai berikut :

Kelebihan :
> Menghemat waktu, karena klien tidak perlu Repot-repot untuk datang ke tempat Psikoterapis
> Lebih Hemat dan Murah, biasanya Psikoterapi yang di Lakukan secara Online memiliki Cost harga yang lebih murah ketimbang Datang langsung ke Tempat Terapis, bahkan ada Psikoterapis yang tidak di pungut biaya alias Gratis
> Cocok untuk Orang yang Memiliki Kepribadian Tertutup alias Pemalu, biasanya orang Pemalu akan lebih terbuka dan Berani jika Terapis di lakukan jarak jauh ketimbang Bertatap Muka langsung

Kekurangan :
> Sang Terapis, dalam hal ini sang Psikolog, tidak mengetahui bagaimana keadaan klien sesungguhnya itu seperti apa.
> Terapis tidak bisa mengetahui bagaimana Bahasa Tubuh si Klien, tatapan mata klien, dan cara bicara si klien, seperti kita tahu bahwa bahasa tubuh, tatapan mata, dan cara bicara merupakan entry point bagi seorang Psikolog untuk bisa mengetahui Kepribadian, karakteristik, dan bahkan Permasalahan yang sedang di alami Sang Klien
Itulah Kelebihan dan Kekurangan apabila kita melakukan Psikoterapi secara Online, mana yang menurut kita lebih baik itu Kembali lagi kepada Diri Masing-masing Individu.

 References
https://hestuningikrarini.wordpress.com/2013/12/29/psikoterapi-psikologi-klinis-dalan-internet/

Kamis, 01 Januari 2015

Tes Psikologi Online

Dengan semakin berkembangnya dunia internet, mempermudahkan kita untuk mengakses atau mencari yang kita butuhkan melalui internet. Biasanya seseorang akan merogoh kocek yang cukup lumayan dalam untuk mengikuti tes psikologi guna mengetahui tipe kepribadian seperti apa diri kita atau seberapa besar IQ yang kita miliki. Tetapi sekarang kita bisa mengikutinya dengan sangat mudah dan gratis. Dibawah ini adalah alamat situs yang mengunggah tentang free psikologi MBTI. Sehubungan dengan tugas softskill yang bertemakan psikologi tes online ini saya mengikutinya dari sumber si-pedia.com . Disana mengakses tentang salah satu tes psikologi yang bernama MBTI (Myers Briggs Type Indicator). Menurut MBTI ada 16 tipe kepribadian. Berikut saya tampilkan tes yang saya ikuti, berhubung tes MBtI ini ada 60 soal jado saya hanya menampilkannya beberapa saja.
M
Mmm
Dan hasil yang didapat adalah saya bertipe kepribadian INFP (Introvert, intuitif, feeling, perceiving) 

Ya itu tadi sedikit gambaran tentang tes MBTI, jika ingin mencoba silahkan kunjungi alamat yang tertera diatas.

Rabu, 03 Desember 2014

Komunikasi Lisan

Teori komunikasi adalah satu pandangan dan strategi yang akan membentuk alat dan rangka kerja untuk sesuatu perkara yang hendak dilaksanakan Dalam proses komunikasi teori akan membina bentuk dan kaidah komunikasi yang hendak dibuat. Melalui penulisan ini pejelasan tentang beberapa teori komunikasi akan dibuat. Terdapat dua aspek utama yang dilihat secara tidak langsung dalam bidang ini sebagai satu bidang pengkajian yang baru. Aspek pertama ialah perkembangan dari beberapa sudut atau kejaidian seperti teknologi komunikasi, perindustrian dan politik dunia. Teknologi komunikasi contohnya radio, televisi, telefon, setelit, rangkaian komputer telah menghasilkan ide untuk mengetahui apakah kesan perkembangan teknologi komunikasi terhadap individu, masyarakat dan penduduk disebuah negara. Perkembangan politik dunia, memperlihatkah bagaimana kesan politik terhadap publik sehingga menimbulkan propaganda dan pendapat umum. Seterusnya perkembangan perindustrian seperti perminyakan dan perkapalan menuntut betapa perlunya komunikasi yang berkesan untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas agar mencapai maksud atau tujuan organisasi tersebut. Aspek kedua ialah dari sudut kajian di mana para pelajar berminat untuk mengkaji bidang-bidang yang berkaitan dengan komunikasi seperti mereka yang dari bidang psikologi sosial mengkaji penggunaan teknologi baru terhadap kesan tayangan animasi kepada anak-anak , propaganda dan dinamik kelompok. penjelasan atas politik dunia seperti menganalisa propaganda Nazi yang mampu mempengaruhi pendengar sehingga mereka patuh dan bersatu. Selanjutnya kajian awal penyelidik atas perindustrian yang pada separuh abad ke-20 tertuju kepada memenuhi keinginan sektor pemasaran untuk mengetahui komunikasi dengan lebih dekat setelah pengiklanan menunjukan kepentingannya. Oleh karena itu, bidang komunikasi mengambil langkah dan maju kedepan setelah berlakunya pengembangan dari sudut teknologi komunikasi, perindustrian dan politik dunia serta kajian-kajian yang telah dilakukan. Sehingga bidang komunikasi menjadi bidang pengkajian yang baru dan mula diminati oleh banyak orang. Namun, bidang yang menjadi asas kepada bidang komunikasi ialah bidang-bidang sains sosial seperti sosiologi, pendidikan, psikologi sosial, pengurusan, antropologi dan psikologi.

Pengertian Ilmu Komunikasi
Pada dasarnya mempunyai ciri yang sama dengan pengertian ilmu secara umum. Yang membedakan adalah objek kajiannya, di mana perhatian dan telah difokuskan pada peristiwa-peristiwa komunikasi antar manusia. mengenai hal itu Berger & Chafee (1987) menyatakan bahwa Ilmu komunikasi adalah suatu pengamatan terhadap produksi, proses dan pengaruh dari sistem-sistem tanda dan lambang melalui pengembangan teori-teori yang dapat diuji dan digeneralisasikan dengan tujuan menjelaskan fenomena yang berkaitan dengan produksi, proses dan pengaruh dari sistem-sistem tanda dan lambang.
Istilah komunikasi atau dalam bahasa Inggris communication berasal dari kata latin communicatio, dan bersumber dari kata communis yang berarti sama, sama disini adalah sama makna. definisi yang dikumpulkan oleh Dance (1970), akhirnya Stappers berhasil membuat enam kategori dari multi makna definisi komunikasi, sebagaimana dikutip oleh Djajusman (1985, 14-15) sebagai berikut:
Aktivitas dari suatu pihak.Rumusannya antara lain: “Communication is the discriminatory of an organism to a stimulus” (Stevens, 1950) Aktivitas datang dari pihak lain: mempengaruhi. Rumusannya antara lain: “The process by which an individual (the communicator) “transmits” stimuli (usually verbal symbols) to modify the behavior of other individuals” (Hovland, 1948) Hubungan adalah central.mantara lain: “Communication is essentially relationship set up by the transmission of stimuli and the evocations of response” (Cherrey, 1964) Hasil adalah yang utama: “sharing” atau pemilikan. antara lain: “It is a process that makes common to or several what was the monopoly of one or some” (Gode, 1959) Transmisi informasi.antara lain: “Communication is an information transformation process which originates at a mind and ends at a minds” (Toda, 1967) Penggunaan lambang. Rumusannya antara lain: “To designate interaction by means of signs and symbols” (Cullen, 1939)
Jenis komunikasi terbagi dua; komunikasi lisan dan komunikasi tertulis. Disini, kita hanya akan membahas tentang komunikasi lisannya saja.
Komunikasi Lisan
komunikasi lisan secara langsung adalah komunikasi yang dilakukan oleh dua orang atau lebih yang saling bertatap muka secara langsung dan tidak ada jarak atau peralatan yang membatasi mereka. lisan ini terjadi pada saat dua orang atau lebih saling berbicara/ berdialog, pada saat wawancara, rapat, berpidato.
komunikasi lisan yang tidak langsung adalah komunikasi yang dilakukan dengan perantara alat seperti telepon, handphone, VoIP, dan lain sebagainya karena adanya jarak dengan si pembicara dengan lawan bicara.




Komunikasi verbal adalah bentuk komunikasi yang disampaikan dengan cara tertulis (written) atau lisan (oral). Komunikasi verbal menempati porsi besar. Karena pada kenyataannya, ide-ide, pemikiran atau keputusan, lebih mudah disampaikan secara verbal daripada non verbal. Dengan harapan, komunikan (baik pendengar maun pembaca ) bisa lebih mudah memahami pesan-pesan yang disampaikan.

Disini saya akan sedikit mengulas tentang salah satu bentuk dari komunikasi verbal, yaitu “komunikasi lisan”

Komunikasi lisan digunakan manusia hampir 80% dari seluruh kegiatan manusia, baik dalam oraganisasi maupun diluar organisasi, dalam urusan formal maupun informal semuanya sering menggunakan komunikasi lisan. Inti dalam pembahasan komunikasi lisan di blog ini adalah, Komunikasi lisan merupakan hal yang sangat penting untuk dilakukan karena sebagian dari kegiatan inti manusia. Didalam organisasi maupun diluar organisasi kita membutuhkan komunikasi lisan yang baik dan benar. Berkumunikasi yang baik adalah dapat menyampaikian sebuah gagasan dengan tepat dan simple, juga sopan. Dan bisa dikatakan baik juga jika kita bisa menerima gagasan orang lain dengan baik dan sopan juga.kumunikasi lisan membutuhkan hubungan timbalbalik baik antara pembicara dan pendengar.
Jadi kita sebaiknya berkomunikasi dengan singkat dan tepat pada tujuan (menjaga eefektifitas dalam berkomunikasi) mengunakan bahasa yang dipahami lawan bicara kita. Sehingga medapatkan komunikasi yang baik dan dapat berjalan dengan baik.
                                                                                                                                

Pengertian komunikasi lisan 
Komunikasi merupakan kegiatan penyampaian pesan dari satu pihak ke pihak lain dengan tujuan tertentu. Pesan tersebut dapat disampaikan dalam berbagai bentuk seperti lisan, tulisan, audio visual ataupun gabungan dari ketiganya.
Dalam komunikasi lisan, pola komunikasi sangat menentukan pilihan kata yang dipergunakan. Organisasi yang hubungan antar unit kerjanya cukup formal, maka bahasa yang dipilih biasanya lugas dan eksplisit. Kata-kata maupun idiom yang dipergunakan jelas bagi siapa saja, baik di dalam maupun di luar perusahaan. Artinya, kata-kata dipilih sejelas mungkin dan diusahakan yang tidak memiliki makna ganda.

Kiat – kiat agar komunikasi mendapatkan hasil
1. Rencana
Sebelum berbicara, susunlah dalam garis besar pesan yang hendak disampaikan. Berdasar kerangka topic yang hendak dibicarakan rincilah hasil yang diharapkan akan teraih. Berdasarkan pengenalan Anda terhadap orang tersebut, perkirakan secara visual (bayangkan) kemungkinan reaksi penerima pesan terhadap apa yang Anda katakan.

2. Penyampaian
Sampaikan pesan dalam bahasa si penerima. Usahakan gunakan istilah khas yang biasa di lingkungan kerja mereka. Pilihlah kata-kata yang mencerminkan citra yang spesifik dan nyata. Hindari timbulnya makna ganda terhadap kata yang Anda sampaikan.
Gunakan komunikasi secara non verbal melalui tinggi rendah suara, tempo dan volume suara, gerak tubuh, postur tubuh, dan lainnya. R. Birdwhistle, seorang pakar komunikasi dari University of Pennsylvania, menyatakan bahwa hanya 7% dari yang dikomunikasikan manusia berasal dari apa yang diucapkan. Selanjutnya 38% komunikasi kita tampak dari tinggi rendah suara, tempo dan volume suara. Sisanya 55% justru tampak dari hal-hal seperti postur tubuh, nafas, warna kulit dan gerakan. Sebagai contoh, mana yang Anda percayai, saat seseorang mengebrak meja dengan wajah merah padam sambil berteriak, “Saya tidak marah!”.

3. Umpan Balik
Dengarkan baik-baik reaksi si penerima pesan. Amati isyarat perilaku mereka seperti angkat bahu, mulut mencemooh, atau mengangguk setuju.


Keterkaitanya komunikasi lisan dengan organisasi 

Alat utama dalam komunikasi lisan adalah bahasa. Berbahasa yang baik dan benar dan efektif, padat dan jelas dalam menyampaikan penjelasan. Berbahasa yang baik dan benar dapat membuat suatu oraganisasi menjadi lebih baik dan jelas, karena dalam berorganisasi sangat dibutuhkan komunikasi, baik lisan maupun tulisan. Sebab kegiatan vital manusia adalah berkomunikasi dengan orang lain baik dalam oraganisasi maupun di luar organisasi.
    Kegiatan bekomunikasi hal yang sangat vital dalam sebuah kehidupan demikian juga dalam sebuah organisasi, mengapa bisa begitu ? karena dalam sebuah kehidupan sangat dibutuhkan komunikasi dengan orang lain atau rekan bisnis kita.

Komunikasi lisan di bagi menjadi 2 :
1.    Komunikasi personal
Adalah komunikasi antar individu yang biasa terjadi dalam informal atau kehidupan sehari – hari. Meskipun tidak menutup kemungkinan terjadi dalam sebuah kondisi formal seperti dilingkungan kerja atau sekolah. 
2.    Komunikasi bediskusi 
Missalnya mempresentasikan gagasan atau ide dalam sebuah organisasi atau lingkungan kerja sering kali kita lakukan. Kondiai seperti ini akan terjadi dalam kondisi formal oleh karena itu kita harus menyampaikan dengan kesan yang baik pada sebuah kelompok yang menjadin lawan bicara kita.


Meningkatkan kemampuan berkomunikasi lisan yang efektif
Mengembangkan kemampuan berbicara efektif, sehingga dapat menyampaikan gagasan / pemikiran dengan singkat, padat, mudah dimengerti dan memenuhi tata krama / sopan.
Komunikasi merupakan kegiatan vital manusia dalam mengarungi hidup dan kehidupan, bahkan komunikasi memiliki porsi 80 % dari seluruh aktivitas manusia, baik dalam kehidupan informal (pergaulan sehari-hari) maupun kehidupan formal (berorganisasi). Keberhasilan seseorang dalam berinteraksi dengan lingkungannya sangat ditentukan oleh tingkat kemampuannya dalam berkomunikasi.
Daftar pustaka

Kamis, 20 November 2014

Konsep Komputer Supported Cooparative Work

Istilah Computer Supported Cooperative Work (CSCW) pertama kali digunakan oleh Irene Greif dan Paul M. Cashman pada tahun 1984, pada sebuah workshop yang dihadiri oleh mereka yang tertarik dalam menggunakan teknologi untuk memudahkan pekerjaan mereka. [1]. Pada kesempatan yang sama pada tahun 1987, Dr. Charles Findley mempresentasikan konsep collaborative learning-work. Menurut [2], CSCW mengangkat isu seputar bagaimana aktivitas-aktivitas kolaboratif dan koordinasi didalamnya dapat didukung teknologi komputer. Beberapa orang menyamakan CSCW dengan groupware namun yang lain mengatakan bahwa groupware merujuk kepada wujud nyata dari sistem berbasis komputer, sedangkan CSCW berfokus pada studi mengenai kakas dan teknik dari groupware itu sendiri, termasuk didalamnya efek yang timbul baik secara psikologi maupun sosial. Definisi yang diajukan [3] mempertegas perbedaan di antara dua konsep ini :
Salah satu bentuk umum konseptualisasi sistem CSCW adalah dengan mengamati konteks dari penggunaan sistem tersebut. Contohnya adalah matriks CSCW, yang diperkenalkan pertama kali pada tahun 1988 oleh Johansen; dan juga muncul pada [4]. Matriks dimaksud membagi konteks sebuah "work" ke dalam dua dimensi yakni waktu dan lokasi. Dimensi waktu dibagi menjadi kolaborasi yang dilakukan pada waktu yang bersamaan (sinkron), atau berbeda (asinkron). Dimensi lokasi dibagi menjadi kolaborasi yang dilakukan pada tempat yang sama, atau

Referensi
http://id.m.wikipedia.org/wiki/Computer_supported_cooperative_work

Internet Addiction

I.    PENDAHULUAN
Melihat semakin diminatinya social media dan game online membuat tak banyak orang menjadi kecanduan akan internet. Kini, internet merupakan satu-satunya sumber yang paling praktis dan bahkan dewasa kini, internet semakin sulit dipisahkan dari kehidupan sosial dari kalangan muda hingga dewasa. Internet juga mampu mengubah pola pikir dan prilaku seseorang. Begitu luasnya dunia menjadi mudah terjamah dengan mudah. Dari fenomena addiction atau kecanduan yang terjadi sebagai dampak interaksi manusia dan internet yang memiliki factor etiologi yaitu cognitive-behavioral model, neuropychological model, compensation theory dan situational factor. Dan juga memiliki beberapa jenis adiksi.
II.    ANALISA DAN PEMBAHASAN
INTERNET ADDICTION
Internet addiction digambarkan sebagai gangguan control impuls, yang tidak melibatkan penggunaan obat memabukkan dan sangat mirip dengan patologis. Beberapa pengguna internet dapat mengembangkan keterikatan emosional dengan teman-teman online mereka dan kegiatan yang mereka buat dari layar computer mereka. Pengguna internet dapat menghubungkan jarak yang jauh seakan dekat sebagai contoh dapat berkomunikasi secara virtual, mengobrol melalui chatroom, mengakses informasi secara cepat dan bahkan parahnya lagi ada perkuliahan secara online dimana mahasiswa tidak perlu lagi datang ke tempat perkuliahan cukup bertatap muka melalui internet. Banyak pengguna internet yang menghabiskan berjam-jam meneliti berbagai topic menarik yg ada di internet atau blogging. Blogging adalah penyusutan dari istilah ‘’web blogging” dimana seseorang akan menulis sebuah peritiwa, penelitian dan komentar.
Mirip dengan adiksi lainnya, mereka yang menderita internet addiction akan mengunakan dunia fantasi virtual untuk terhubung dengan orang-orang nyata melalui internet.
•    Faktor etiologi
-    Cognitive-behavioral Model: Kecanduan teknologi sebagai bagian dari kecanduan perilaku: kecanduan internet menampilkan komponen inti dari kecanduan (kedudukan kentara, mood modifikasi, toleransi, penarikan, konflik dan kambuh). Dari perspektif ini, pecandu internet ditampilkan arti-penting kegiatan, sering mengalami keinginan dan perasaan disibukkan dengan internet saat offline. Ia juga menunjukkan bahwa menggunakan internet sebagai cara untuk menghindari perasaan mengganggu, mengembangkan toleransi internet untuk mencapai kepuasan, mengalami penarikan, kapan mengurangi penggunaan intenet, penderitaan saat meningkatnya konflik dengan orang lain karena aktivitas, dan kambuh kembali ke internet juga tanda-tanda kecanduan. Model ini telah diterapkan pada perilaku seks tersebut, berjalan, konsumsi makanan, dan perjudian.
-    Neuropsychological Model: Seorang individu akan diklasifikasikan sebagai pecandu internet asalkan ia memenuhi siapa pun dari tiga kondisi berikut:
(1) salah satu akan merasa bahwa lebih mudah untuk mencapai aktualisasi diri secara online daripada di kehidupan nyata,
(2) salah satu akan pengalaman dysphoria dan depresi setiap kali akses ke internet rusak atau kusut berfungsi,
(3) orang akan mencoba untuk menyembunyikan waktu penggunaan yang benar nya dari anggota keluarga.
-     Situational Factors: Faktor situasional berperan dalam pengembangan kecanduan internet. individu yang merasa kewalahan atau yang mengalami masalah pribadi atau yang experince mengubah hidup acara seperti divorve arecent, relokasi, atau kematian dapat menyerap diri dalam dunia maya yang penuh fantasi dan intrik
-    compensation theory



Referensi
http://ruangpsikologi.com/gangguan-kecanduan-internet/

 
Putri Melly Chynthia Blogger Template by Ipietoon Blogger Template
Pink Bow Tie